Rabu, 23 Mei 2012

Batik fashion dan motif etnik


Pada Acara Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) baru-baru ini para desainer,seperti Ghea S Panggabean dan Widhi Budimulia, menghadirkan Batik Fashion dan etnik dalam konsep mini show  . Keduanya merancang busana menggunakan bahan baku Indonesia, motif etnik dan bahan kain batik.
Ghea dan Widhi membawa pesan, busana berbahan Indonesia juga bisa dirancang menyesuaikan tren terkini. bahkan ada kesan modis. Busana berbahan Indonesia tak kalah kualitasnya, dapat menjadi pilihan busana bagi masyarakat Indonesia, selain mampu bersaing dengan busana berlabel internasional segmen siap pakai.
Produksi Dalam negeri perlu digalakkan dan digali. IPMI berusaha menerjemahkan sumber budaya ke dalam fashion agar diterima warga dunia. Bahan Indonesia endlessdan banyak bisa digali, banyak motif dan semakin berkembang. Inovasi tetap harus ada tapi tetap membudayakan produk dalam negeri," jelas Ghea, saat jumpa pers seusai pagelaran fashion di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
Desainer perlu terus berinovasi dengan menggunakan bahan tradisional namun tetap mengikuti trenstyling, yakni potongan busana yang tidak terlalu tradisional agar pecinta fashion tertarik mengenakannya, demikian diungkapkan Ghea .
Senada dengan Ghea Widhi pun berpendapat, "Bagaimana mengolah bahan Indonesia agar terlihat global, ini tantangannya," tuturnya.

Ethnicentrique dan Batikcentrique
Misi JFFF melalui koleksi siap pakai berkualitas, kental sentuhan Indonesia. Pemilihan bahan penting dalam menciptakan koleksi siap pakai yang dapat memenuhi kebutuhan berskala besar. Selain itu, untuk menciptakan ready to wear, desainer juga harus mengikuti tren dunia. Ghea pun menerjemahkan salah satu tren dunia, motif tribal, dalam konsep busana Indonesia.



Motif tribal  adalah motif lokal yang menggunakan perpaduan motif Nusa Tenggara Timur, Timor, dan Sumba, dengan sentuhan motif etnik Kalimantan. Selain warna terang yang hangat, busana etnik bergaya modern juga diterjemahkan dalam warna hitam putih, sehingga bisa menjadi tren dunia dalam busana etnik bergaya modern ,"Saya memadukan handmade dan industrial printing. Jaket menggunakan tenun ikat tapi yang lainnya perpaduan motif. Untuk memproduksi ready to wear dalam jumlah banyak, akan kesulitan jika menggunakan kain asli yang membutuhkan waktu enam bulan untuk satu kain. Jika ingin mengembangkan ready to wear, harus berpikir secara industri, karena butuh lebih dari 250 potong busana untuk memenuhi kebutuhan department store," ungkapnya.

Bukan hanya busana etnik yang memakai bahan dan motif dari Indonesia, Ghea juga mendayagunakan batik menjadi busana siap pakai yang bertema Batikcentrique. Batik peranakan dari Pekalongan menjadi pilihan Ghea dalam menampilkan koleksi busana modern siap pakai. Kombinasi bahan baku menjadi solusi untuk mencipta busana siap pakai. Untuk fashion batik, Ghea memadukan batik cap dan printing menggunakan bahan yang nyaman dipakai.

Ghea bereksperimen dengan bahan sifon, satin sutera, sutera ATBM (alat tenun bukan mesin), dan jersey, untuk menghasilkan busana etnik dan batik. Kenyamanan busana menjadi alasan mengapa Ghea memilih sejumlah bahan ini dalam busana siap pakai deluxe kreasinya."Kali ini saya tidak menampilkan high fashion tapi koleksi yang menyesuaikan dengan ready to wear deluxe untuk kebutuhan trading yang menjadi misi JFFF," tutur Ghea.




Demonstration of Style
Menurut Widhi bagaimana gaya busana Eropa berpadu dengan bahan baku Indonesia seperti batik, menjadi tantangan tersendiri baginya.Pada acara Fashion etnik dan batik di JFFF, Widhi menampilkan inovasinya menggunakan motif batik Garut dan Tasikmalaya, mengombinasikan motif dan warna cerah dalam satu kesatuan busana yang terlihat selaras. Spesialisasi saya adalah pada evening wear dan adibusana bergaya barat, namun saya juga menjajaki busana siap pakai menggunakan batik. Selain itu juga memadukan gaun malam dengan bahan Indonesia seperti batik pada detail busana atau aksesori lainnya.
Koleksi  Widhi Budimulia mencipta busana dengan gaya city look bersiluet feminin, elegan, dan metropolis. Dengan bahan brokat, linen, sifon, tafeta, shantung, dan organdi, ia mencipta blazer, blus, celana, mini pants, gaun malam, dan gaun cocktail, untuk perempuan modern yang berani tampil gaya.

Koleksi fashion batik dan etnik Indonesia ternyata sangat cocok dan sangat bagus jika dikombinasikan dengan model fashion ala eropa, sehingga meski berbahan lokal kesan elegan, trendy dan feminim tetap ada.


sumber: kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar